Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan

Senin, Desember 23, 2013

Burung Kacamata Enggano, Tak Senasib Burung Robin

Burung Robin
Acapkali melihat burung Robin Eropa (Erithacus rubecula) dibelakang rumah melopat-lompat malu mendekati sisa nasi yang sengaja keperuntukkan buat mereka, ingatanku selalu tertuju kepada nasib Burung Kacamata di Pulau Enggano. Bunyi dan kelincihannya hampir mirip walau mereka bersaudara jauh.

Ada rasa berdosa, mengingat selama dua tahun bertugas di Pulau Enggano tidak dapat berbuat banyak terhadap keberadaan spesies ini. Tidak dilindungi oleh undang-undang konservasi sebenarnya bukan menjadi alasan bahwa makhluk mungil ini bebas ditangkap, dipelihara serta diperjualbelikan. Yang saya lakukan hanya memberi pengertian "bahwa burung ini adalah endemik, tidak terdapat ditempat lain, walaupun ada spesies yang ada tidaklah sama dengan yang ada dipulau Enggano". Penjelasan, penjelasan dan penjelasan, sebatas itu saja. Seperti makan buah simalakama.

Mungkin banyak yang tidak tahu Pulau Enggano mempunyai salah satu keistimewaan dikarenakan keunikannya, diantara keunikannya adalah keberadaan spesies endemik Burung Kacamata (Zosterop salvadorii) dan Burung Celepuk Enggano (Otus enganensis). Sehingga Pulau ini ditetapkan sebagai Endemik Bird Area (EBA) oleh BirdLife Internasional.
Burung Kacamata Enggano (Philips)
Beberapa tahun belakangan, IUCN memposisikan spesies ini dengan status "Hampir Terancam (NT)", agaknya status ini tidak akan lama bisa bertahan sampai penangkapan, jual beli dan permintaan pasar terhadap burung ini masih tinggi. Akankah juga akan bernasib seperti burung Beo Enggano yang beberapa tahun terakhir ini mulai susah dicari?

Saya juga tidak habis pikir, kenapa masyarakat kita, khususnya pecinta burung begitu menikmati burung yang disiksa didalam sangkar, apakah mereka mengerti bahasa burung? Bisa jadi kicauan burung yang merdu itu adalah salah satu bentuk protes dan doa mereka terhadap pengurungnya. Protes agar mereka tidak dikurung, dan doa agar sipengurung mendapat azab. Tidakkah alam liar adalah rumah mereka sebenarnya? Dan menikmati mereka di alam liar adalah kenikmatan sesungguhnya?
Akhirnya dalam hati saya berkata:
"Wahai Burung Robin, alangkah beruntung nasibmu, andai saja kau hidup di kampungku, mungkin engkau sudah dipenjarakan oleh banyak 'pecinta' burung"

Sabtu, Januari 21, 2012

Oh.. Burung Migran, Kau Imut Sekali...

Sore itu, Selasa tanggal 17 Januari 2012. Kapal Ferry ASDP KMP.Pulo Telo berangkat dari pelabuhan ferry Kahyapu Pukul 17.00. Setelah dua minggu di Enggano membuatku rindu suasana keluarga di Bengkulu. Ingat dengan masakan istri tercinta, rindu ocehan putra pertama yang belum genap 2 tahun dan tangisan puteri ku yang belum genap 3 bulan serta karib kerabat saudara seperjuangan.
Tidak seperti biasa setelah lebih kurang satu jam perjalanan, kapal ferry KMP.Pulo Telo harus berbalik arah karena dihadang oleh badai angin barat yang membuat kapal nyaris tak bergerak. Harapan kerinduan pun harus sirna, Nakhoda boleh berencana namun cuaca kehendak Yang Kuasa. "Salah satu risiko bertugas di daerah terpencil" Batinku berkata.
"Harapan yang sirna, tak berguna menggerutu, nikmati saja.."  Batinku memberi pembelaan dan menghibur diri. Setelah mendengar pengumuman bahwa kapal direncanakan kembali berangkat pagi esok pukul 07.00 Pagi, ku engkol motor megaPro pelat merah yang starternya baru rusak dan rem cakramnya sudah mulai berisik karena telah dua minggu melawati jalan berlumpur jika hujan dan berdebu jika panas, "wajar sajalah bukan medan nya".
Belum keluar dari kompleks pelabuhan di balik semak tegakan Rhizophora yang masih sebesar perdu, suasana gaduh bak dipasar minggu, macam di sarang burung walet milik Ahong di Kampung Cina, brisik!. membuat aku harus mengkentikan laju motor megaPro pelat merah. Kulihat segerembolan burung mungil yang mungkin sedang berebut tempat untuk tidur istirahat, lelah mungkin, sesekali hinggab diranting dengan menggoyangkan ekor ke kiri dan ke kanan. Kubuka Handphone Android murahan buatan korea, lumayan sekedar untuk menyimpan gambar Mc. Kinnon yang bisa kubawa kemana-mana, dan sekedar online serta berkirim email. Masya Allah mungkin burung imut ini kecapean, entah dari daratan mana burung ini berasal, Asia Timur, negeri bagian dari Korea , negeri bagian dari Cina ( Gansu , Anhwei , Hunan ) atau sebuah negeri bagian dari Siberia? dimana burung mungil ini biasa berkembang biak dan mencari tempat yang hangat ketika negerinya kedatangan musim dingin.
Forest Wagtail, Dendronanthus indicus, Kecuit Hutan, begitu menjadi catatan Mc.Kinnon terhadap burung migran bertubuh mungil ini, mungkin sebesar burung pipit yang sama hebohnya kalau sore datang atau burung gereja yang sering nyelip di atap rumah.
Luar biasa, Masya Allah, luar biasa ya Allah, hujan badai, petir, angin, terik panas dilalui burung mungil ini, entah dari daratan benua mana mereka berasal. Pastinya dia tidak pernah mengeluh karena semua memang sudah menjadi Qada Allah yang menuntun mereka menyinggahi pulau kecil ini, tanpa peta, kompas apalagi GPS.
Keciut Hutan (c) Lip Kee
Kalah sejenak kesedihan, ada yang membuat aku lebih mikir ternyata tugas di Pulau kecil Enggano tidaklah jauh, tak sejauh perjalan migrasi burung kecil Kecuit, yang merupakan tugas batin dan instring anugerah Allah semesta alam. Sudahlah.. Istirahat dulu di pos peot... "Sampaikan pada anak cucumu, musim selanjutnya jangan tidak mengunjungi Enggano..."

Senin, Januari 24, 2011

Burung Kacamata Jambul Ambulans: Berkicau Sangat Merdu

Kehicap Ranting (Hypothymis azurea)
Entah apa nama ilmiyah dari burung ini, mungkin ada bisa yang bantu?. Salah seorang  penangkap (pemburu) Beo Enggano menyebutnya Burung Kacamata Jambul Ambulans (panjang juga ya?). Bunyinya merdu dan nyaring dan seperti Ambulans. Sedikit berjambul dan berkacamat. "pakai kaca mata minus" kata si mantan pencari beo, "Jika burung kacamata, sudah pake kacamata plus" Sambungnya.
 Burung ini biasanya dijumpai dibawah tajuk pohon di hutan yang lebat, dan sangat jarang dijumpai di tempat terbuka. Tidak seperti burung Kacamata Enggano, Burung ini lebih sering dijumpai dalam keadaan menyendiri. Bergerak sangat lincah, untuk itu tidak mudah untuk bisa menangkap bayangannya dengan kamera. Suka bermain-main diranting pohon atau perdu dan tubuh berukuran relatif kecil.
Bagi para pengamat burung, tentu sebuah keberuntungan bisa mendengar kicauan  merdu burung yang satu ini. Namun butuh kesabaran untuk bisa mengamatinya secara seksama dialam liar sana. Bagi yang berminat, si mantan pemburu beo, siap memandu anda.

Lihat Juga
Burung Betet Enggano

Burung Betet Enggano Menjadi Hama?

Anggrek Bulan Enggano
Ular Laut di Pelabuhan Kahyapu