Kali ini kita menengok Pulau Enggano melalui catatan seorang penjelajah Eropa dalam buku À Travers Sumatra de Batavia à Atjeh (1904) karya Kapten Bernard. Pada bagian ini (hal. 47–53), ia merekam kesan singkat saat singgah di Enggano, mulai dari kondisi alamnya yang liar, kehidupan masyarakatnya, hingga aktivitas barter sederhana yang melibatkan pedagang luar. Di balik narasi tersebut, terselip gambaran awal tentang perubahan sosial yang mulai terjadi. Meski ditulis dari sudut pandang kolonial, catatan ini tetap menarik untuk dibaca sebagai jejak sejarah Enggano di masa lalu.
Berikut ringkasan terjemahannya:
___
Pulau Enggano, Bengkulu, dan Pelayaran Menuju Padang
Di atas kapal Speelman, 10 April
Pagi ini, sekitar pukul sepuluh, kami tiba di Enggano. Kapal kami melempar sauh di sebuah teluk yang tenang, terlindung dari hempasan laut oleh tiga pulau kecil. Di sekeliling kami terbentang sabuk karang tempat ombak pecah berbuih, membentuk lingkar sempit yang membuat mata sulit mengenali jalur masuk yang baru saja kami lewati.
Baru saja sauh dijatuhkan, dari masing-masing pulau kecil itu meluncur perahu-perahu yang mendekat dengan cepat, didayung kuat-kuat. Penduduk asli yang menaikinya saling menyemangati dengan teriakan-teriakan nyaring. Mereka bertubuh kokoh, setengah telanjang, dengan otot-otot yang menonjol tegas. Wajah-wajah mereka tampak keras dan garang; mata mereka yang dalam berkilat di bawah alis tebal yang menaungi dahi sempit; tulang pipi mereka menonjol, rahang mereka kuat dan persegi.
Sehelai kain melilit rambut mereka dan membingkai dahi. Di bagian belakang, rambut yang kasar terurai dan jatuh ke tengkuk. Mereka tampak sebagai sosok-sosok yang kuat dan liar, seolah-olah lebih cocok dibayangkan dalam lukisan perang, memegang tombak atau gada. Ketika mereka naik ke kapal, gerak mereka lincah dan tangkas, seperti binatang yang sedang menyerbu mangsa yang mudah. Saya membayangkan, ketika Cook dan La Pérouse dahulu mendarat di pulau-pulau baru, pemandangan serupa barangkali sering tersaji di hadapan mereka.
“Penduduk asli Pulau Enggano datang ke atas kapal Speelman membawa karung-karung kopra yang mereka tukarkan dengan beras.” Namun, orang-orang ini sebenarnya tidak datang dengan niat buruk. Mereka hanya ingin berdagang, menukar kopra dengan beras. Mereka juga membawa buah-buahan, ikan-ikan aneh yang tubuhnya dipenuhi duri, serta cangkang-cangkang indah berlapis kilau mutiara keunguan. Di buritan setiap perahu berdiri seorang Tionghoa, perantara dagang yang tampaknya hampir tak terelakkan di kawasan-kawasan seperti ini, mengatur jalannya pertukaran dan mengendalikan gerakan mereka.
Kepulauan Enggano pada masa lampau sebenarnya cukup padat penduduk. Lima puluh tahun yang lalu, penduduk aslinya masih hidup tenang dan terasing dari dunia luar. Mereka berburu dan menangkap ikan; mereka belum mengetahui cara menempa besi; mereka juga belum mengenal tembakau maupun alkohol. Jika sebuah kapal singgah di hadapan kampung mereka, mereka menerima orang asing dengan keramahan yang polos: perempuan-perempuan dan anak-anak gadis mereka datang menawarkan diri kepada para pendatang. Kebiasaan ini menimbulkan rasa hina di kalangan orang Sumatra terhadap penduduk yang mereka anggap liar.
Akan tetapi, mereka kemudian masuk ke jalan yang disebut “kemajuan”. Dampaknya justru buruk. Mereka menjadi peminum berat, dan kaum laki-lakinya dikenal sangat pencemburu. Seorang pejabat pengawas muda, yang baru saja kembali dari kunjungan dinas, mengatakan kepada saya bahwa ia bahkan tidak sempat melihat wajah seorang perempuan pun. Meski begitu, ia bersikeras bahwa gadis-gadis Enggano sangat cantik; mungkin justru karena tak pernah benar-benar melihat mereka, bayangan penyesalan itulah yang memperindah pandangannya.
Masuknya peradaban dari luar juga menimbulkan akibat lain yang jauh lebih serius. Jumlah penduduk merosot dengan mengerikan. Penyakit telah menyebabkan kehancuran sedemikian rupa sehingga kini tinggal sekitar enam ratus jiwa saja. Penyakit apa yang membinasakan orang-orang yang secara lahiriah tampak begitu kuat ini? Tak seorang pun dapat menjawab dengan pasti. Penduduk asli percaya bahwa mereka dikejar oleh roh-roh jahat yang membenci mereka.
Karena itu mereka meninggalkan pulau besar dan mengungsi ke pulau-pulau kecil yang dianggap sedikit lebih sehat. Pulau-pulau kecil itu tampak seperti keranjang-keranjang hijau yang nyaris terapung di atas air bening. Yang mula-mula terlihat adalah garis pasir berkilau seperti emas. Sesudah itu tampak rumpun-rumpun semak, belukar membulat, lalu di belakangnya batang-batang rapat dan tajuk-tajuk hijau pohon kelapa. Saya tidak melihat jenis pohon lain; di bawah naungan kelapa itu, rumah-rumah berdiri tersebar di sepanjang tepi laut.
Di sebelah kiri kami, pulau besar Enggano membentang panjang seakan-akan dengan malas. Seluruh tubuhnya tertutup hutan. Di beberapa tempat di tepian pantai, rumpun-rumpun kelapa masih menandai lokasi desa-desa lama yang dahulu pernah ada. Melihat wilayah semacam itu—liar, megah, dan nyaris tak tersentuh—muncul dalam diri saya keinginan untuk mendarat, menginjak pita pasir halus yang mengelilingi hutan, lalu masuk menembus rimba demi sebuah petualangan.
Saya tahu betul apa yang akan saya jumpai di sana: rawa-rawa dan semak belukar, duri-duri yang kejam, sulur-sulur pengkhianat yang membelit dan menangkap kaki, serta serangga-serangga menjijikkan. Namun demikian, saya justru merasakan semacam penyesalan yang nostalgik karena tidak dapat memenuhi keinginan itu. Mungkin karena saya dilahirkan di negeri yang kering dan terpanggang matahari, maka saya menyimpan kecintaan yang dalam terhadap hutan.
Selubung tebal yang menutupi tanah itu, himpunan dedaunan gelap tempat terbukanya lorong-lorong sempit dan jalan-jalan remang, semuanya menarik saya lewat misteri dan kesejukannya. Dan lagi, beberapa waktu silam saya pernah hidup di tengah hutan, menjalani kehidupan yang bebas dan mengembara. Kenangan itu, saya rasa, masih tinggal dalam diri saya seperti sejenis penyakit lama yang dari waktu ke waktu datang kembali menyerang.
Kini kami telah meninggalkan Enggano. Kapal bergerak menuju Benkoelen, yakni Bengkulu. Dari haluan, kami menunggu munculnya garis pantai yang tinggi, yang perlahan-lahan akan tampak seolah bangkit dari permukaan laut.
___
Dari catatan perjalanan Kapten Bernard tahun 1904, terdapat sejumlah informasi menarik yang menggambarkan kondisi Pulau Enggano pada masa lalu. Uraiannya tidak hanya menampilkan ciri fisik dan kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga mengungkap perubahan besar yang terjadi akibat kontak dengan dunia luar, termasuk menurunnya jumlah penduduk karena penyakit, adanya peran pedagang Tionghoa dalam aktivitas barter, hingga pola permukiman yang mulai ditinggalkan. Meskipun ditulis dari sudut pandang penjelajah Eropa, catatan ini tetap memberikan gambaran awal yang penting tentang dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan Enggano pada masa tersebut.i:
- Ciri orang Enggano: digambarkan bertubuh kuat, berotot, setengah telanjang, berwajah tegas, dengan tulang pipi menonjol, rahang kuat, dan rambut diikat kain pada bagian depan.
- Penduduk menyusut drastis: penulis menyebut jumlah penduduk Enggano tinggal sekitar 600 jiwa akibat serangan penyakit, sehingga digambarkan seperti berada di ambang kepunahan.
- Ada orang Tionghoa: dalam perahu-perahu yang datang ke kapal, disebut ada orang China/Tionghoa yang berperan sebagai perantara dagang.
- Hasil bumi dan barang tukar: masyarakat Enggano membawa kopra, buah-buahan, ikan, dan kulit kerang; terutama kopra ditukar dengan beras.
- Pulau besar pernah ditinggalkan: karena wabah dan ketakutan, penduduk disebut meninggalkan pulau besar lalu pindah ke pulau-pulau kecil yang dianggap lebih aman atau lebih sehat.
- Bekas kampung lama masih terlihat: di tepi pantai masih tampak rumpun kelapa yang menandai lokasi kampung-kampung lama yang sudah ditinggalkan. Ini bisa dikaitkan dengan ingatan bahwa wilayah seperti Kahayapu pernah kosong atau ditinggalkan.
- Masyarakat lama hidup terisolasi: sekitar 50 tahun sebelumnya mereka digambarkan hidup relatif terpisah dari dunia luar, dengan mata pencaharian berburu dan menangkap ikan.
- Belum mengenal besi, tembakau, dan alkohol: penulis menyebut mereka dahulu belum tahu menempa besi, serta belum mengenal tembakau dan alkohol.
- Kontak luar mengubah kehidupan: setelah masuknya pengaruh luar, penulis menilai terjadi perubahan sosial besar, termasuk alkohol dan kemerosotan kondisi masyarakat.
- Enggano kaya hutan dan sulit diakses: pulau ini digambarkan berhutan lebat, dikelilingi karang dan ombak, sehingga jalur masuknya sempit dan sulit.
