Senin, Desember 27

Menarik! Gambar Satelit Perubahan Pulau Mega.


Peta. Perubahan Pulau Mega


Ada yang menarik terhadap fenomena alam yang terjadi di Pulau Mega (Pulau Mego : Pulau yang Jauh, Nama Lokal). Pulau yang terletak di 148 Km kearah barat Kota Bengkulu ini mengalami perubahan setelah terjadi Gempa Bumi dengan 8.5 Skala Richter pada; Rabu 12 September 2007 ; pukul 18:10:26 WIB; Episentrum berada dikedalaman 43 Km. karena aktivitas ini mengakibatkan melusanya daratan pulau. Yang sebelumnya seluas 293,36 Ha menjadi 607.23 Ha, atau mengalami perluasan sebanyak 200,6 %. Artinya mengalami perluasan menjadi 2 kali lipat dari luas daratan sebelumnya.


Pulau dengan panjang keliling 10,86 Km ini sangat kaya dengan sumberdaya laut. Tak heran nelayan dari Sikakap, Pagai Utara, Nias menjadikan pulau ini sebagai lokasi primadona untuk mencari ikan dan dijadikan pula tempat persinggahan. Selain itu, walaupun tak berpenghuni namun sesekali datang pula penduduk musiman dari Pulau Pagai untuk memanen buah kelapa.
Gambar. 92.pulau.com, dari ekspedisi 92 pulau terluar



Jika diamati dengan citra satelit Aster, maka perubahan itu terlihat sangat ketara. Jika sebelum terjadi gempa yang berjarak 60.23 km dari Pulau Mega tersebut terdapat terumbu karang laut dangkal (dilihat pada citra TL_ASTER_date2004-07-26_lat-3.88_lon100.87), maka setelah terjadi gempa terumbu karang naik ke permukaan (dilihat pada citra TL_ASTER_date2007-12-10_lat-3.89_lon100.91). Untuk itu perubahan tersebut mengakibatkan rusaknya terumbu karang yang terbentuk selama ratusan tahun.


Ada yang tertarik ke Pulau Mega untuk melihat peruhan ini?, mungkin saya bisa diajak ;) [rrr]

Kamis, Desember 23

Sekilas Tentang Pulau Enggano


Peta. Kawasan Hutan Pulau Enggano.
Pulau Enggano telah dikenal sebagai Daerah Burung Endemik atau Endemic Bird Area (EBA). Merupakan konsep pendekatan BirdLife International dalam mengidentifikasi tempat-tempat terkonsentrasinya keanekaragaman hayati dunia.  Di dunia terdapat 221 EBA, dan Indonesia adalah negara yang memiliki EBA terbanyak dengan 24 daerah. (Sujatnika,1995).  Sementara itu, Enggano merupakan Pulau dengan luasan Daerah Burung Endemik tersempit di Indonesia dengan luas 39.570.11 Ha.
Enggano berada di Provinsi Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara dan merupakan sebuah wilayah administratif pada tingkat kecamatan dengan 6 Desa defenitif. Desa yang meliputi Kecamatan Enggano adalah Desa Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meo dan Desa Banjar Sari.
Secara jarak dan akses Pulau Enggano tidak dekat dengan Ibukota Kabupatennya yakni Argamakmur Kabupaten Bengkulu Utara bila dibandingkan dengan Kabupaten Lainnya yang lebih dekat. Secara umum Pulau Enggano diakses melalui Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu. Pelayaran menggunakan kapal ferry Raja Enggano dengan jadwal dua kali pelayaran dalam satu minggu atau kapal barang Perintis dengan jadwal pelayaran satu kali dalam tempo sepuluh hari. Untuk saat ini sedang dibangun bandara penerbangan yang berlokasi di Desa Banjar Sari, desa bagian paling utara Pulau Enggano.
Kawasan Hutan Enggano
Tidak seperti kawasan hutan lainnya di Provinsi Bengkulu, kawasan hutan di Pulau Enggano relatif lebih aman dari aktifitas perambahan dan tumpang tindih kawasan, baik dengan masyarakat setempat maupun dengan perusahaan. 36.34% luas daratan Pulau Enngano merupakan kawasan hutan dan 22.08% dari luas daratan merupakan kawasan kosnervasi.
No
Kawasan Hutan
Luas (Ha)
% dari Luas Pulau
(39.570.11 Ha)
Status Kawasan

CA
KK

CA
KK
Penunjukan
1
CA Sungai Bahewo Reg.97
496,06
1465.57
8.736.57
1.25
3.70
22.08
Penunjukan
2
CA. Teluk Klowe Reg.96
331,23
0.84
Penunjukan
3
CA. Tangjung Laksaha Reg.95A
333,28
0.84
Penunjukan
4
CA. Kioyo I & Kioyo II Reg.100
305,00
0.77
Penunjukan
5
TB. Gunung Nanua Reg.59
7.271,00
18.37
Penetapan
6
HL.  Koho Buwa-Buawa  98
3.450,00
8.72
Penunjukan
7
HPT. Ulu Malakoni Reg.99
2.191,78
5.54
Penunjukan
Jumlah
14.378,35
36.34

Tabel. Kawasan Hutan Enggano berdasarkan presentase luasan Wilayah

Masyarakat Enggano
Terdiri dari 754 KK dengan  2.682 Jiwa. Yang terdiri dari 5 Golongan masyarakat suku adat. Terdiri dari 5 suku Asli; Suku Kaitora, suku Kaarubi, suku Kaahoao, suku Kaahoao dan Suku Kauno dan 1 suku pendatang; yakni semua masyarakat pendatang yang digolongkan menjadi suku Kamai’. Masing-masing suku dipimpin oleh ketua suku dan kemudian mereka membentuk lembaga adat dengan nama “KAHA YAMU’Y. Lembaga adat ini dibentuk oleh para kepala suku, kemudian memilih seorang ketua yang disebut dengan PA’ABUKI. Hak atas Tanah dan Pengelolaan Wilayah. Penguasaan tanah yang berlaku di masyarakat adat Enggano berdasarkan penguasaan suku persuku. Seperti suku kaharuba memiliki wilayah Kaudar/kampung Kaana. (Badan Registrasi Wilayah Kelola Adat, 2010)

Floura Enggano
Kepulauan Enggano diyakini sejak awal pembentukannya terpisah dengan Pulau Sumatera. Jatna Supriatna didalam Melesatikan Alam Indonesia, menyebutkan; Kepulauan Enggano Mempunyai 17 spesies mamalia dan 3 diantaranya endemik,  dari 29 spesies burung 2 merupakan endemic.  Dua spesies Endemik yang telah terditeksi di Kepulauan Enggano yakni Otus enganensis, dengan Status Konservasi Hampir terancam, dan Zosterops salvadorii,  dengan Status Konservasi Rentan. 
Jenis faun lain yang dijumpai adalah kerang-kerangan, belut, anggrek, tumbuh-tumbuahan, serangga, reptil, amphibi, kupu-kupu dan berbagai jenis burung. Dijumpai pula hewan predator Buaya Muara (Crocodillus porosus sp) diantaranya hidup disekitar muara sungai-sungai yang melintasi kawasan hutan di Pulau Enggano.  Diantaranya di dalam kawasan Taman Buru Gungung Nanua.
Hutan mangrove
Hutan mangrove di Enggano sebagian besar tersebar di bagian pantai sebelah timur Pulau Enggano, termasuk ke dalam kawasan hutan koservasi, seperti Cagar Alam Teluk Klowe, Cagar Alam Sungai Bahewo dan Taman Buru Gunung Nanua; luasnya 1.536,8 ha. Sebagian hutan mangrove juga terletak di sebelah barat Pulau Enggano, yaitu di Cagar Alam Tanjung Laksaha dan secara spot-spot terletak di sebelah selatan kawasan Cagar Alam Kioyo (Senoaji dan Suminar, 2006).
Terumbu Karang
Hampir disepanjang pisisir pantai pulau merupakan terumbu karang dengan laut dangkal. Sayangnya keberadaannya mulai terancam karena tingginya aktivitas penambangan secara illegal untuk keperluan material bangunan. Belum banyak yang melakukan pengakajian yang mendalam terhadap keberadaan terumbu karang di Pulau Enggano.
Pengelolaan Kawasan
Hutan Konservasi dipulau Enggano yang terdiri dari 5 Cagar Alam dan 1 Taman buru dengan luas 8.736.57 Ha. Dikelola oleh  Pemangku wilayah sekelas Resort pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Dengan menempatkan 2 orang petugas resort dan telah ditunjuk 4 orang sebagai Tenaga Pengamanan Hutan Swakarsa. Pos Resort ditempatkan di Desa Kahyapu dengan bangunan semi permanen.
Sedangkan untuk Hutan Lindung (3.450,00 Ha) dan HPT (2.191,78 Ha) dikelola oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Bengkulu Utara, dan tidak terdapat petugas lapangan yang di tempatkan khusus untuk mengelola HL dan HPT di Pulau Enggano.
Masih banyak kekayaan Enggano yang seharusnya bisa diungkap. Kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistem Pulau Enggano yang telah ada seyogyanya mampu dikelola dengan arif dan bijaksana. Sebelum banyak timbul masalah karena dikelola dengan cara yang tidak tepat. Dari sekarang semestinya ada banyak hal yang mampu kita perbuat sebelum kita bercerita ketiga Pulau Enggano menuai banyak masalah.  Ayo Selamatkan Enggano.

Selasa, Desember 21

Enggano Menggiurkan, Diatas Kekhawatiran.

Gambar. Pulau Enggano yang Teduh dan Asri
Pulau Enggano yang luasnya 39.570.11 Ha memang sudah banyak dilirik oleh berbagai kalangan, mulai pengusaha hiburan, perikanan, sampai rencana Pemerintah Daerah setempat bekerjasama dengan LAPAN untuk menjadikan Enggano sebagai tempat peluncuran Satelit. Yang lebih ekstrim lagi adalah upaya pihak swasta untuk menjadikan Perkebunan Sawit --walaupun akhirnya buntu karena aktifitas LSM Lingkungan di Pulau Enggano cukup intense--. Tentu sangat menggiurkan mengingat ada sekitar 25.191,76 Ha Lahan (63.66%) di Pulau Enggano merupakan APL (Areal Peruntukan Lain). dan sekitar 18.000 Ha adalah "tanah tak bertuan" Luasan yang sebanyak itulah yang sangat diminati oleh para pemodal. Jadi jika dikalkulasikan maka penduduk enggano yang ada sekarang bisa mendapat tanah garapan  sekitar 33 Ha/KK. Lahan yang masih sangat luas. Dan yang baru tergarap  belum 40%. Menggiurkan sekali untuk para Investor.
Untuk saat ini di Pulau Enggano sudah terdapat sekitar 8.736,57 Ha Kawasan Konservasi atau sekitar 22.08 % dari luas pulau. Mau dijadikan Taman Nasional apa tidak, lahan seluas itu tetap saja Hutan Konservasi. Dan kondisinyapun masih sangat pure dan terjaga, walaupun disana sini masih terdapat aktifitas Illegal logging yang dilakukan oleh oknum kapal pencari ikan (Jakarta, Kuala Tungkal, Lampung, Painan), para Pemburu Anggrek Liar Enggano serta aktivitas Illegal Trafficking berbagai satwa yang dilindungi di Pulau Enggano.
Pertanyaannya sekarang, luasan hutan yang masih pure dengan status Hutan Konservasi dan Hutan Lindung yang luasannya belasanribu hektar tersebut apa hanya bisa dan dibiarkan dikelola oleh satuan sekelas Pos Resort, yang dana operasionalnya tidak seberapa. Dengan petugas Resort yang hanya 2 orang  minim pengetahuan spasial dan ekologi. Disangsikan mampu mengelola sebuah kawasan yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati, budaya masyarakat yang Unik dan potensi ekologi yang tinggi. [rrr]

Minggu, Desember 19

Peta Proyeksi Enggano zaman Belanda 1726-1755

Peta. Proyeksi Enggano 1726 - 1755 oleh Johannes van Keulen
Peta dengan skala 1: 350.000 dibuat oleh seorang navigator belanda bernama Johannes van Keulen. Saat ini peta ini disimpan Museum Maritim Belanda. Hak cipta dipegang oleh Museum Maritim Belanda. Diagram bagian pantai barat Sumatera dengan pulau Enggano ini mengindikasikan bahwa Pulau Enggano diakses melalui Daratan Pesisir Lampung. Mengingat pada saat itu Bengkulu masih dikuasai oleh Inggris sedangkan Pulau Enggano merupakan areal jajahan Belanda.
Gambar. Kepingan Logam yang ditemukan warga disekitar Muara Berhau
Dari peta tersebut diketahui bahwa pada saat itu Teluk Berhau merupakan pusat pelabuhan yang penting. Dinama pada akhirnya pada abad ke-19 Berhau mulai ditinggal oleh penduduk Enggano kearah pesisir utara-timur pulau Enggano. Namun masih ditemukan beberapa benda-benda sisa perkampungan lama yang telah ditinggal. 
Diketahui pula bahwa pada zaman itu setidaknya terdapat 11 Pulau Kecil yang ada disekitar Pulau Enggano. Dimana pada masa sekarang hanya tersisa 3 Pulau kecil. Termasuk diantaranya pulau yang hilang adalah Pulau Satu yang sekarang hanya tinggal seonggok batu karang mati yang terendam air laut. 
Mari dukung konservasi Enggano. [rrr]

Sabtu, Desember 18

Sungai Unik di Teluk Berhau

Gambar. Jembatan di Mulut Sungai Buntu
Sungai Buntu, begitu masyarakat setempat (yang didominasi masyarakat migran keturunan Bugis) menyebut sungai ini. Secara administratif sungai ini masuk kedalam Desa Banjar Sari, ia merupakan anak Sungai Berhau. Berjarak kira-kira 1.5 Km dari bibir pantai Teluk Berhao. Di bagian hulu sungai ini terdapat sebuah danau, oleh masyarakat setempat disebut Danau , disekitar danau ini merupakan habitat dari Kerbau Air yang hidup liar.

Yang unik dari sungai ini adalah aliran airnya yang menembus tanah sehingga disebut dengan Sungai Buntu. Tembusan alirannya dijumpai sejauh lebih kurang 300 m kearah utara. Menurut penduduk setempat dimulut sungai sering dijumpai ikan Pelus dalam ukuran super besar. Selain itu baru-baru ini penduduk setempat menangkap buaya dengan ukuran lebihkurang sepanjang 7 m. Bahkan penduduk setempat mengaku pernah menjumpai Buaya Muara yang besarnya jauh lebih besar dari ukuran tersebut. Sayangnya buaya yang ditangkap warga dibunuh, karena telah memangsa 2 ekor anjing milik warga. 

Ada penduduk yang mengaku pernah menabur tuba jenis putas seberat 2 Kg kedalam sungai tersebut, "Anehnya tak ada 1 ikanpun yang mati" ujar warga Banjar Sari keturunan Bugis tersebut. Walau sangat disayangkan atas tindakan warga tersebut karena menggunakan zat beracun yang tentunya merusak lingkungan, tetapi kejadian tersebut tergolong aneh.

Memang sungai yang unik. Atau ada yang berani menyelam untuk mengungkap misteri sungai tersebut? [rrr]

Mangrove di Pulau Enggano

Gambar. Tegakan Mangrove di CA.Sungai Bahewo
Hutan mangrove yang relative masih utuh di Provinsi Bengkulu adalah di pulau Enggano.  Hutan mangrove di Enggano sebagian besar tersebar di bagian pantai sebelah timur Pulau Enggano, termasuk ke dalam kawasan hutan koservasi, seperti Cagar Alam Teluk Klowe, Cagar Alam Sungai Bahewo dan Taman Buru Gunung Nanua; luasnya 1.536,8 ha. Sebagian hutan mangrove juga terletak di sebelah barat Pulau Enggano, yaitu di Cagar Alam Tanjung Laksaha dan secara spot-spot terletak di sebelah selatan kawasan Cagar Alam Kioyo (Senoaji dan Suminar, 2006). 
Gambar. Tegakan Mangrove di sekitar Pelabuhan Kahyapu
Hutan mangrove di Enggano mempunyai ketebalan antara 50-1500 m. Komposisi jenis penyusun hutan mangrove di Enggano  terdiri dari 16 jenis yaitu Rhizophora apicullata, R. mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Xyloacarpus granatum, Sonneratia alba, Ceriops tagal, Oncosperma filamentosa, Palmae sp., Terminalia catapa, Calamus ornitus, Hibiscus tiliacerus, Ficus sp., Baringtonia asiatica, Cerbera manghas, Scaevola taccada dan Pongamia pinnata. Tiga jenis pertama merupakan jenis-jenis yang dominant dan banyak menyebar di setiap kawasan Cagar Alam Suaka Alam Tanjung Laksaha. Lebar hutan mangrove di daerah ini bervariasi mulai dari 50-1000 m. 
Gambar. Tumbuhan Bakau di CA.Tj.Laksaha

Potensi hutan mangrove di cagar alam ini cukup tinggi yaitu 320 m3/ha dengan jumlah pohon 350 pohon/ha. Pohon-pohon yang berdiameter di atas 50 cm mencapai 30%, dengan rata-rata diameter pohon 36 cm dan tinggi 9 m. (Doppa Wijiningsih, blhkotabengkulu.web.id)

Abrasi Pulau Enggano

Gambar. Bunker yang diyakini sebagai Sisa Penjajahan Jepang
Tingkat abrasi pantai di Pulau Enggano dapat dilihat dari keberadaan sebuah bunker Peninggalan Penjajah Jepang di Desa Malakoni, tidak Jauh dari Pelabuhan Kapal Perintis Malakoni.
"Keberadaan benteng peninggalan Jepang di Kahyapu yang pada 1960-an masih berjarak 30 meter dari tepi pantai, tetapi saat ini sudah berada di dalam laut. Benteng itu sekarang sudah di dalam laut, jadi diperkirakan terjadi penyempitan daratan sepanjang 40 meter," (Rafli Zen Kaitora,nasional.kompas.com)
Mari kita upayakan konservasi hutan pantai, bahaya abrasi Enggano di depan mata.

Burung Betet Enggano


Gambar. Psittacula longicauda
Pulau Enggano merupakan salah satu kawasan Daerah Penting bagi Burung IBA (Importen Bird Area) dan juga kawasan Burung endemik EBA (Endemik Bird Area). Salah satu jenis burung yang saat ini belum tercatat mengenai karakteristik jenis, keberadaanya populasi dan sebarannya adalah burung paruh bengkok di Enggano. Dari 85 jenis burung paruh Bengkok di Indonesia, 1 jenis memiliki sebaran di Pulau enggano, burung tersebut adalah Betet ekor panjang (Psittacula longicauda).

Betet ekor panjang memiliki lima sub spesies, salah satu sub spesies tersebut adalah Psittacula longicauda modesta, yang sebarannya hanya di pulau enggano. IPPL melakukan penelitian mengenai jenis ini untuk upaya konservasi jangka panjang, selain tingkat perburuan yang cukup tinggi, Betet ekor panjang sering kali di burung untuk dikonsumsi.  (burung-nusantara.org)

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan              : Animalia
Filum                     : Chordata
Kelas                     : Aves
Ordo                      : Psittaciformes

Lihat Juga:

Burung Betet Enggano Menjadi Hama?


Salak Enggano.


Gambar. Salak yang tumbuhliar di Pulau Enggano
Lazimnya Salak ditemukan tumbuh liar di alam di Jawa bagian barat daya dan Sumatra bagian selatan. Akan tetapi asal-usul salak yang pasti belum diketahui. Salak dibudidayakan di Thailand, Malaysia dan Indonesia, ke timur sampai Maluku. Salak juga telah diintroduksi ke Filipina, Papua Nugini, Queensland dan juga Fiji.Sebagian ahli menganggap salak yang tumbuh di Sumatra bagian utara berasal dari jenis yang berbeda, yakni S. sumatrana Becc.. S. zalacca sendiri dibedakan lagi atas dua varietas botani, yakni var. zalacca dari Jawa dan var. amboinensis (Becc.) Mogea dari Bali dan Ambon. 

Kerajaan              : Plantae
Divisi                     : Magnoliophyta
Kelas                     : Liliopsida
Ordo                      : Arecales
Famili                    : Arecaceae
Genus                   : Salacca
Spesies                 : S. ?

Berdasarkan kultivarnya, di Indonesia orang mengenal antara 20 sampai 30 jenis di bawah spesies. Beberapa yang terkenal di antaranya adalah salak Sidimpuan dari Sumatera Utara, salak condet dari Jakarta, salak pondoh dari Yogyakarta dan salak Bali. (http://id.wikipedia.org/wiki/Salak).

Untuk salak liar Enggano boleh jadi sebagai sebuah  Spesies lain dari Jenis yang selama ini telah dikenal para ahli botani. Apakah ada Ahli botani yang tertarik ke Enggano untuk mengkajinya lebih jauh? atau memang telah ada nomenklatur untuk Spesies salak yang tumbuh di Pulau Enggano? [rrr]

Jumat, Desember 17

STIMULUS 1: Enggano Layak Menjadi Taman Nasional?

Sungai Bahewo. Dalam Kawasan Cagar Alam
Ada beberapa Kriteria yang mesti dipenuhi suatu kawasan yang diusulkan menjadi Taman Nasional. Aturan mengenai Hal ini tertuang dalam UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP Not. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Dalam aturan itu disebutkan bahwa Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan system zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu engetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Gambar.  Teluk Dakoha, Cagar Alam di ujung Utara Enggano

Saat ini dari wilayah Pulau Enggano 36,34% (14.378,35 Ha) merupakan Kawasan Hutan dan 22.08 % merupakan Kawasan Konservasi (8.736,57 Ha) yakni Cagar Alam (CA) Sungai Bahewo Reg.97 (496,06 Ha) , CA. Teluk Klowe Reg.96 (331,23 Ha), CA. Tangjung Laksaha Reg.95A (333,28 Ha), CA. Kioyo I & Kioyo II Reg.100 (305,00 Ha), dan Taman Buru Gunung Nanua Reg.59 (7.271.00 Ha). Selanjutnya di puncak tertinggi Pulau Enggano terdapat Hutan Lindung Koho Buwa-Buawa (3.450,00 Ha) dan HPT. Ulu Malakoni Reg.99 (2.191,78 Ha). Dengan luasan tersebut tentunya sudah cukup untuk menopang ekosistem yang diperlukan bagi sebuah pengelolaan Taman Nasional.


Photo© Filip Verbelen
Burung Kacamata, Endemik Enggano,


Terdapat beberapa Floura dan Fauna yang dilindungi yang hidup pada Habitat yang masih Asli. Berbagai jenis satwa burung endemik Enggano; Burung Kacamata Enggano dilaporkan banyak dijumpai. Celepuk Enggano dijumpai beberapa kali pada kunjungan singkat ke pulau ini pada tahun 1983 (van Marle dan Voous, 1998). Untuk itu dikatakan pula bahwa Pulau Enggano merupakan Daerah Burung Endemik (DBE) terkecil di Indonesia. Hidup pula berbagai jenis Anggrek diantaranya ada yang telah dilindungi Undang-undang.

Photo © Filip Verbelen.  
Celepuk Enggano. Endemik P.Enggano
Pulau Enggano telah lama pula menjadi catatan para ahli botani dan zoologi sebagai surga kekayaan hayati dunia. Banyak kekayaan flora fauna endemik khas berada di pulau ini, yang tak akan di jumpai di belahan dunia lain. Dari jenis kerang,-kerangan belut, anggrek, tumbuh-tumbuahan, serangga, reptil, amphibi, kupu-kupu dan burung. (Tanah rejang, kehutananunib.co.cc).


Berdasarkan Laporan Resort BKSDA Enggano bulan Desember 2010, dari kawasan Hutan yang sekarang ada, bisa dikatakan bebas dari masalah tumpah tindih dan permasalahan penyerobotan peramabahan. Namun mengingat semakin meningkatnya para masyarakat migran untuk membuka lahan, menjadi tantangan tersendiri bagi keutuhan Kawasan Hutan Pulau Enggano.
Kehicap Ranting Enggano


Ada banyak potensi Pulau Enggano yang belum dimamfaatkan secara maksimal. Keunikan ekosistemnya tentu memiliki potensi yang tiada batas. Disisi lain ada beberapa agenda pembangunan Pulau Enggano yang seyogyanya tidak bersebrangan dengan tujuan konservasi Pulau Enggano. Untuk itu perlu ada pengkajian yang lebih mendalam untuk menentukan pantas apa tidaknya ditetapkannya Kawasan Hutan Enggano sebagai Taman Nasional.


Akhirnya ditetapkannya atau tidak Kawasan Hutan Enggano sebagai Taman Nasional, kekayaan sumber daya alam hayati dan ekosistem Pulau Enggano harus tetap dipertahankan walau dengan fasilitas, sarana, dana yang minim dan apa adanya. [rrr].

Kamis, Desember 16

Anggrek Bulan Enggano

Gambar. Phalaenopsis tetraspis Rchb.f. 1868

Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) adalah salah satu bunga nasional Indonesia. Pertama kali ditemukan oleh seorang ahli botani Belanda, Dr. C.L. Blume.

Tanaman anggrek ini tersebar luas mulai dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua, hingga ke Australia. Cara hidupnya secara epifit dengan menempel pada batang atau cabang pohon di hutan-hutan dan tumbuh subur hingga 600 meter di atas permukaan laut.

Kakteristik tanaman, Anggrek bulan termasuk dalam tanaman anggrek monopodial yang menyukai sedikit cahaya matahari sebagai penunjang hidupnya. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk memanjang. Akar-akarnya berwarna putih dan berbentuk bulat memanjang serta terasa berdaging. Bunganya memiliki sedikit keharuman dan waktu mekar yang lama serta dapat tumbuh hingga diameter 10 cm lebih. (sumber: http://id.whttp://id.wikipedia.org/wiki/Anggrek_bulanikipedia.org/wiki/Anggrek_bulan)

Cagar Alam Sungai Bahewo

Gambar. Genangan Air di Cagar Alam Sungai Bahewo

Rabu, Desember 15

Hutan Konservasi Pulau Enggano


Peta. Lokasi Kawasan Konservasi di Pulau Enggano
Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar dari kepulauan Nusantara. Menjauh dari garis equator kearah selatan sepanjang 589 km. Dengan luasan datar  39.570,11 Ha, memanjang sejauh 35.60 km dari arah barat laut menuju tenggara atau dari Teluk Berhau sampai Tanjung Kohoubi. Melebar 12.95 km dari timur laut menuju barat daya atau dari Pelabuhan Malakoni sampai Tanjung Kioyo. Terpisah oleh Samudera Hindia  dari pulau Sumatera. Terpaut 175 km dari Kota Bengkulu, 123 km dari Kota Manna, 133 km dari Kota Bintuhan dan 513 km dari Ibukota Indonesia Jakarta. Elevasi tertinggi berada dipuncak Koho Buwa-buwa (240 dpl). Disekitar Pulau Enggano terdapat beberapa pulau kecil antara lain; Pulau Dua (38.90 Ha), Pulau Merbau (6.8 Ha) dan Pulau Bangkai (0.26 Ha). Dan telah tercatat sejarah pernah terdapat Pulau Satu yang berada di Barat Pulau Enggano yang dikabari telah mulai menghilang semenjak tahun 1960-an.
 
Gambar. Sunset di CA.Tanjung Laksaha
36,34%  (14.378,35 Ha)  wilayah Pulau Enggano  merupakan Kawasan Hutan. Terdapat 6 (enam) Kawasan  Konservasi (8.736,57  Ha/ 22.08 %) yakni Cagar Alam (CA) Sungai Bahewo (496,06 Ha) , CA. Teluk Klowe (331,23 Ha), CA. Tanjung Laksaha (333,28 Ha), CA. Kioyo I & Kioyo II (305,00 Ha), dan Taman Buru Gunung Nanua (7.271.00 Ha). Selain Itu terdadapat Hutan Lindung  Koho Buwa-Buawa (3.450,00 Ha) dan HPT. Ulu Malakoni (2.191,78 Ha).

Dari luasan 8.736,57 Ha Kawasan Konservasi di pulau enggano ditangani oleh 2 orang petugas dibawah kepemimpinan kepala Resort BKSDA Enggano. Pos Resort berada di Desa Kahyapu, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Pelabuhan Ferry Kahyapu. 

Gambar. Menyeberangi Sungai Behewo di CA. Sungai Bahewo
Kendala utama yang dialami oleh para petugas dilapangan adalah aksesibilitas yang terlalu minim ditambah pula Fasilitas yang belum begitu mendukung. Kedepan Pihak BKSDA Bengkulu akan berusaha meprioritaskan pengelolaan Kawasan Konservasi di Pulau Enggano. Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan lahan pertanian oleh masyarakat Pulau Enggano maupun masyarakat migran, maka pengawasan dan sosialisasi terhadap kawasan Konservasi di Pulau Enggano perlu dimaksimalkan, agar tidak menjadi permasalahan dikemudian hari. Selain itu, maraknya aktifitas Illegal Logging dan Illegal Hunting yang dilakukan oleh oknum masyarakat, maka  petugas perlu meningkatkan pengamanan kawasan dan pengawasan peredaran hasil hutan. 

Ada banyak spesies indemik Pulau Enggano yang tidak dimiliki pulau lain yang mustinya harus kita lestarikan. 

Pada permasalahan lain adanya ancaman bencana alam gempa bumi dan tsunami didepan mata yang harus selalu kita waspadai. Mengingat Kepulauan Enggano merupakan Areal Rawan Gempa Bumi dan Stunami. Menurut rekaman USGS semenjak 1965 di kepulauan Enggano dan sekitarnya telah terjadi ratusan kali gempa bumi yang berpeluang terjadinya Stunami (http://earthquake.usgs.gov/monitoring/anss/). Maka Konservasi Tegakan Pantai perlu digalakkan, serta keutuhan Kawasan Hutan Konservasi musti tetap dipertahankan, mengingat tanaman pantai mampu mengurangi laju gelombang dan abrasi.

Akhirnya, untuk mewujudkan keselamatan Kawasan Konservasi, sumber daya alam hayati serta ekosostemnya dan secara lebih khusus mewujudkan Ketentraman Masyarakat Enggano, maka kami perlu mendapat dukungan semua dari semua kalangan. Keterbatasan dan hambatan bukan alasan untuk tidak berbuat yang terbaik. [rrr]